Senin, 14 April 2014

PERJANJIAN KERAMAT


PERJANJIAN KERAMAT

Suatu waktu aroma yang telah kuakrabi tercium hidung, wangi yang sangat menggetar menakutkan sekaligus dirindui sepenuh rindu, wangi tak biasa, yang terbit dari mentari sana yang padanannya tak ada dialam sini.

Terlihat dari jauhku, cahaya perjalananku menjemput. Sesaat lagi wajah tampan sang utusan mendatangiku.

Kata sang utusan: Aku diutus kekasihmu menjemput bila rela. Sudah siapkah duhai sang pecinta?

Kataku: Duhai izroilku, siapa yang tak senang bertemu dengan sang kekasih? Siapa yang tak rindu dengan cahaya pertemuan itu? Karna birahi yang ingin termuntahkan atau cinta yang mendesakkah bermandikan cahaya gemilang dan melebur didalamnya?

Kata sang utusan: sudah siapkah duhai sang pecinta?

Kataku: Maaf, belum. Banyak cinta simbolikku yang belum kulampoi, banyak cinta majazyku yang belum kucukupkan. Aku minta tangguh waktu, datanglah lima tahun kemudian. Sang kekasih pasti sabar menanti.
Sang utusan pamit dan berlalu.

Waktu berlalu hingga saat keramat kurang tujuh hari lagi dan sang utusan bertamu lagi.

Kata sang utusan: Langitmu telah runtuh dan wajah sang kekasih telah tak tertirai lagi. Masihkah tak ingin berdua dengan pengantinmu?

Kataku: Datang kemari tiga hari lagi, kumohon!
Sang utusan pamit dan pergi.

Waktu yang kuminta begitu cepat berlalu dan diapun datang.

Kata sang utusan: Bumimu hampir tak sanggup membawa beban kerinduanNya? Sudah siapkah?

Kataku: Pergilah! Aku kan datang sendiri tanpa engkau jemput.

Aku telah lama bisu sebelum bisu, telah lama buta sebelum buta, telah lama mati sebelum mati.


Kataku: duhai kekasih aku datang dengan rela, dengan suka cita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar